Kamis, 12 Oktober 2017

Hidup seperti bermain sepakbola

HIDUP SEPERTI BERMAIN SEPAKBOLA

Mungkin ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa sepak bola adalah olahraga yang paling populer di dunia atau di negeri ini. Saya sendiri sebelum mengenal jenis olahraga lain semisal bulutangkis, voli, basket, tenis meja, dan sebagainya, terlebih dahulu mengetahui sepak bola.

Semasa kecil saya biasa bermain sepak bola di rumah bersama ayah atau paman saya, di halaman masjid, di jalan, di lapangan, bahkan pernah di areal tanah pemakaman ketika masih banyak lahan yang belum berpenghuni.

Sedangkan untuk menonton sepak bola, saya tidak terlalu suka kecuali jika tim yang menjadi jagoan saya. Saya lebih senang menyaksikan tayangan highlight saja yang berisi rangkuman jalannya pertandingan dan momen-momen gol terjadi.

Ketika kompetisi galatama digelar di negeri ini, yang konon katanya menjadi percontohan J-Leage di Jepang, tim seperti Pelita Jaya, Arseto Solo, Niac Mitra Surabaya, dan Medan Jaya adalah tim yang saya tunggu-tunggu cuplikan pertandingannya.

Sementara tim luar negeri baru saya kenal ketika Liga Seri A mulai ditayangkan oleh RCTI kala itu. Mungki karena saat itu Tim AC Milan sedang berjaya, jadilah tim tersebut menjadi tim jagoan saya di Seri A Italia. Sementara di Inggris ada Setan Merah yang selalu saya harapkan memenangkan setiap pertandingan. Sementara di Spanyol, ada Barcelona.

Sejak menyaksikan tayangan pertandingan yang diselingi dengan ucapan para komentator itulah saya mengetahui beberapa quote atau apalah namanya yang muncul dalam setiap pertandingan sepakbola semisal, “Siapa yang menguasai lapangan tengah, maka akan memenangkan pertandingan”, “Bola itu bundar, apa pun bisa terjadi di empat puluh lima menit babak kedua”, “Menyerang adalah pertahanan terbaik”, dan sebagainya.

Lantas apakah ada hubungannya antara sepak bola dengan kehidupan di dunia ini?

Saya pernah mendengar ucapan dari seorang da’i yang menyamakan tim sepakbola seperti anggota masyarakat, khususnya dalam berdakwah. Beliau mengibaratkan bahwa para striker yang bertuga membobol gawang lawan adalah para dai yang berda’wah ke berbagai penjuru dunia. Mereka ikhlas pergi meninggalkan kampung halaman mereka untuk memperkenalkan agama Allah kepada orang-orang yang belulm mengenalnya. Sementara para difensore dan penjaga gawang adalah mereka-mereka yang bertugas menjaga keamanan iman dan aqidah orang-orang di tempatnya tinggal.

Kedua kelompok ini memiliki peranan yang sama penting. Karena percuma bisa mencetak gol yang banyak tapi kebobolan dengan jumlah yang sama pula. Percuma menambah orang-orang yang mengenal agama islam, sementara banyak yang sudah beraqidah mulai tergelincir.

Peran kedua lini tersebut dihubungkan oleh lini tengah yang bisa naik ke daerah pertahanan lawan untuk menyerang, sekaligus bisa turun ke garis belakang untuk memperkuat benteng pertahanan. Mungkin mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dalam segi harta dan fasilitas pendukung.

Dalam sebuah iklan tentang salah satu liga eropa digambarkan seorang pemain yang sedang menggiring bola ke depan gawang lawan. Dari posisinya, dia sudah memiliki kesempatan untuk mencetak gol. Para penonton mulai bersorak memberikan semangat agar dia bisa mencetak gol dan menjadi top scorer. Namun pemain tersebut tidak egois dengan prestasinya sendiri. Dia melihat seorang kawan yang memiliki posisi yang lebih bagus untuk mencetak gol dibandingkan posisinya. Dia pun mengoper bola ke kawannya tersebut. Sang kawan yang sudah siap menerima umpan langsung menendang bola hasil umpan tersebut ke arah gawang lawan dan mencetak gol. Dan Menang!

Mungkin seperti itu jugalah proses untuk meraih kebahagiaan di dunia, apalagi di akhirat. Setiap individu tidak hanya bertugas untuk meraih kebahagiaan pribadinya sendiri. Tetapi juga mengajak orang lain untuk ikut merasakan kebahagiaan tersebut.

Seseorang tak hanya diperintahkan untuk menjaga dirinya dari api neraka, tapi juga keluarganya. Seseorang tidak hanya diperintahkan untuk mengerjakan shalat, zakat, dan haji yang merupakan ibadah individu namun pada dasarnya juga menyimpan kemaslahatan orang banyak, tetapi juga diperintahkan untuk mengajak orang lain untuk berbuat baik dan mencegah orang lain berbuat buruk. Kesemua peran tersebut dilakukan oleh golongan masyarakat yang berbeda-beda, sesuai dengan kemapuan yang dimiliki.

Mereka yang memiliki kekuasaan, mungkin lebih cocok untuk berperan sebagai pencegah kemunkaran. Mereka bisa membuat peraturan-peraturan yang lengkap dan komprehensif dan menjalani peraturan tersebut dengan sebaik-baiknya. Sementara mereka yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, bisa berperan untuk mengajak orang banyak untuk melakukan kebaikan bersama-sama.

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar